Upacara Adat Ngasa Gandoang Bentuk Pelestarian Budaya Brebes yang Kental

banner 468x60

KANGENTRAVELING.COM – Brebes salah satu wilayah yang memiliki keanekaragaman nilai budaya maupun tradisi. Terdapat upacara adat Ngasa yang telah bertahun-tahun lamanya terus dilestarikan. 

Upacara tersebut digelar setahun sekali oleh masyarakat Gandoang. Acara adat tersebut digelar pada mangsa kasanga atau bulan kesembilan dalam kalender Jawa. 

Masyarakat Gandoang mempercayai ritual upacara tersebut sebagai bentuk rasa syukur kepada Maha Pencipta dan membuang hal yang buruk dari Desa Gandoang tersebut. 

Mempertahankan Upacara Adat Ngasa dan Tradisi Kuno

Hingga kini upacara adat tersebut masih berjalan demi melestarikan budaya leluhur dan sebagai sarana pelestarian alam yang ada di Desa Gandoang Brebes tersebut. 

Masyarakat Gandoang hingga saat ini masih mempertahankan budaya lokal. Bahkan dari segi bangunan kampung terlihat masih sederhana dan tidak ada bangunan yang menggunakan semen maupun keramik. 

Bahkan, pada kampung Jalawastu desa Ciseureuh yang berada sekitar 70 km arah barat daya dari kota Brebes. Desa tersebut telah dihuni 145 kepala keluarga dan tidak ada satu rumah pun yang menggunakan bahan semen dan keramik. 

Semua murni dari papan kayu mulai dari dinding hingga kamar mandi yang bermaterial kayu dari alam. 

Warga kampung memegang teguh tradisi dan upacara adat Ngasa yang mereka anut, termasuk menjaga pantangan kuno. Upacara Ngasa menjadi satu-satunya tradisi yang mereka junjung. 

Tradisi Kuno dan Pantangan                                         

Tradisi kuno dan pantangan yang hingga kini masih dijaga, yakni larangan adanya pentas wayang, menanam bawang hingga memelihara angsa. 

Bahkan masyarakat tidak ada yang memelihara kerbau maupun domba. Masyarakat percaya akan ada  musibah melanda jika sampai ada yang melanggar larangan tersebut. 

Begitu juga upacara Ngasa yang selalu dilestarikan dan dilakukan ritualnya setiap tahun tersebut. Dengan doa keselamatan yang dilakukan bersama-sama, maka akan membuang sial dan membawa keberkahan pada desa tersebut. 

Bahkan, upacara adat Ngasa tersebut hanya dipusatkan pada hutan yang dianggap keramat. Begitu juga penyajian makanan, harus dihidangkan tanpa nasi, lauk pauk, ikan, daging dan telur. 

Semua sudah sesuai aturan dan hanya berupa jagung yang ditumbuk dan dijadikan nasi dan campuran lauk berupa umbi-umbian. Semua terpusat pada hasil panen dari desa tersebut. 

Cara penyajian makanan tersebut tidak boleh menggunakan piring maupun gelas kaca. Semua murni dari alam. Piring daun atau berbahan plastik saja. 

Menjunjung Tinggi Lingkungan Alam

Masyarakat sangat pandai memperlakukan dan memanfaatkan lingkungan alam.  Mereka memperlakukan alam selayaknya manusia. Bahkan, masyarakat mempertahankan nilai kejujuran, taat beribadah, saling gotong royong dan menjaga kelestarian lingkungan. 

Itulah kenapa upacara adat Ngasa tersebut dilakukan di hutan dan alam semesta. Salah satu bentuk penghormatan kepada alam semesta dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. 

Adat budaya dan tradisi tersebut akan terus dilestarikan, dijaga, dipelihara dan diturunkan kepada generasi penerus agar tidak punah. 

Umumnya setelah selesai pelaksanaan doa bersama dalam upacara tersebut masyarakat ditunjukkan hiburan seni calung dan perang centong sebagai ciri khas desa tersebut. 

Bahkan untuk mengetahui jumlah yang hadir dalam acara doa bersama di hutan. Mereka dibagikan daun pisang yang sudah disuwir atau disobek, lalu dibagi satu persatu. 

Kemudian, akan dikumpulkan kembali dan dihitung. Sehingga dapat diketahui jumlah masyarakat yang hadir. Begitu pentingnya upacara adat Ngasa tersebut sehingga masyarakat menjadikan upacara adat tersebut sebagai warisan budaya yang akan dilestarikan sepanjang masa.(/bayraharjo)

kangentraveling.com
banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *