Trip to Jogja Untuk Pertama Kalinya Part 3 (Pasar Bringharjo)

banner 468x60

JOGJA – Waktu baru menunjukan jam 8 malam, namun
jalanan Malioboro terasa sudah sangat larut malam. Mungkin karena kita sudah
berada di tempat itu sejak sore hari. Mba ikmah bertemu dengan teman sekolahnya
di sebuah tempat di Malioboro, kita menunggu sejenak sambil menikmati
keramaikan riuhnya jalanan Malioboro malam itu.

Ada berbagai macam pedagang kaki lima yang
menjajakan makanan, si pengamen malam mengalunkan lagu-lagu terbaiknya. Aku
melihat dokar dan becak setia menunggu penumpang datang, sambil sesekali
melihat sang empunya menawarkan jasa kepada setiap orang yang melintas.

Kendaraan terlihat memadati jalanan yang
banyak memberikan inspirasi kepada para musisi besar tanah air itu. Aku
mengarahkan kameraku keberbagai arah di sudut-sudut jalanan Malioboro. Lampu
jalanan, kemacetan, tukang sate ayam, dan lain sebagainya. Vira dan si kecil
manyun.

Setelah selesai ngobrol dan melampiaskan
kangen bersama temannya mba ikmah menanyakan kemana perjalan selanjutnya. Aku
mengajak untuk berjalan menuju ke pasar Bringharjo atau ke tugu nol kilometer.
Sambil nanti makan malam di angkringan, disana juga kita bisa menikmati kopi
joss.

Ternyata pasar bringharjo selalu sukses
menutup mata hati dan fikiran setiap wanita. Entah daya magis apa yang ada
didalamnya. Karena setiap kali ada seseorang wanita yang masuk keadalam tempat
itu akan hilang ingatan, seperti orang kesurupan setan gila belanja hingga
tidak tahu bahwasannya ada acara lain untuk menikmati perjalanan ke jogja kali
itu.

Belanja di bringharjo memang selalu
mengasikan, karena kita bisa membeli banyak barang dengan uang sedikit
sekalipun. Harga yang miring dan tawar menawar yang mengasikan menjadi salah
satu paduan kenikmatan tersendiri kala berada di tempat tersebut. Bagaimana
tidak jika kita terbiasa berbelanja di pasar tanah abang atau thamrin city yang
harus membawa segudang uang tapi tetap saja membawa sedikit belanjaan. Nah
disini kita serasa bisa memborong semuanya dengan uang kita yang pas-pasan
saja.

Barang yang ditawarkan juga lumayan bagus.
Modelnya juga tidak kalah menarik, update dan sangat menarik. Aku hanya
mengamati dari kejauhan sambil sesekali mengarahkan kameraku untuk menangkap
moment aneh disekelilingku.

Vira terlihat sudah sangat tidak nyaman, ingin
segera pergi dari tempat itu. Si kecil yang dari tadi kecapean tetap di gendong
oleh bapaknya yang setia menunggu mba ikmah berbelanja. Walapun sudah banyak
belanjaan namun seperti biasanya, ibu-ibu selalu belum puas jika semua yang
diinginkan belum ia dapatkan. Belanja malam itu selesai namun dengan catatan
esok hari setelah perjalan kita dari Borobudur pulangnya mampir lagi ke pasar
Bringharjo untuk membeli sejumlah baju untuk sanak saudara yang belum
mendapatkan.

Kondisi sudah sangat lelah, melihat vira
manyun, bapaknya sepertinya sangat lelah melihat mba ikmah belanja, dan lelah
menggendong si kecil. Rencana ke tugu akhirnya di batalkan dan kita langsung
menuju ke penginapan. Karena besok pagi kita harus sudah menuju ke Borobudur
untuk trip selanjutnya. Padahal dalam hati aku “hadeuh kenapa ini mau langsung
pulang padahal masih baru jam segini, mana enaknya jam 9 malam di jogja udah
mau tidur, belum makan di angkringan, belum nyobain kopi joss, atau
menghabiskan semalaman suntuk di tugu jogja di temani alunan musik-musik
jalanan”.

Selanjutnya pagi ke Borobudur…

kangentraveling.com
banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *