Suami & Istri Baik, Bukan Jaminan Pernikahan Baik-baik saja

banner 468x60

KANGENTRAVELING.COM – Pernikahan merupakan ikatan suci antara seorang suami dan istri. Namun, menjadi suami atau istri yang baik saja tidak cukup untuk menjaga pernikahan tetap harmonis. Begitu banyak faktor dan aspek yang harus dipertimbangkan untuk membangun hubungan yang kokoh dan seimbang antara pasangan suami dan istri.

Terkadang, istri yang baik ingin memberikan dukungan pada suami yang sedang lelah setelah seharian bekerja. Dia berusaha menciptakan kenyamanan dengan mengeluarkan curhatan dan beban di hadapan suaminya. Namun, tanpa disadari, istirahat yang diharapkan oleh suami berubah menjadi waktu yang sepi dan kesepian baginya. Inilah masalah yang sering menghantui pernikahan.
Sebaliknya, suami yang baik berusaha memberikan waktu yang luang bagi istri untuk menenangkan diri saat istri marah atau kesal dengan kesalahan yang dia lakukan. Tujuannya adalah agar istri bisa merasa didukung dan dicintai. Namun, tanpa disadari, istri mungkin menginterpretasikan perlakuan itu sebagai ketidakpedulian suami dalam memperjuangkan hubungan mereka. Dalam situasi seperti ini, mendamaikan istri dengan merayunya terus-menerus adalah langkah yang lebih penting daripada meninggalkannya.
Ketidakpahaman ini sering kali menyebabkan konflik dalam pernikahan. Jika situasi ini berlangsung dalam jangka waktu yang lama, bahkan bertahun-tahun, dampaknya bisa sangat merusak pernikahan tersebut. Karena itu, menjadi suami atau istri yang baik saja tidak cukup untuk menjaga keharmonisan pernikahan.
Seringkali juga terjadi bahwa suami yang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan materi keluarga lupa bahwa istri dan anak-anaknya juga membutuhkan kebutuhan emosional. Mereka juga ingin merasakan kasih sayang, perhatian, dan dukungan dari suami dan ayah mereka. Jika kebutuhan ini terabaikan, maka seseorang dari luar pernikahan dapat dengan mudah masuk dan menawarkan penggantian kebutuhan emosi yang tidak terpenuhi. Hal ini dapat menjadi ancaman serius bagi kestabilan pernikahan.
Dalam hubungan yang harmonis, istri yang baik juga perlu mengungkapkan perasaan dan emosi jika terjadi masalah. Menekan perasaan tidak nyaman dan merahasiakannya sendiri untuk menjaga suami tidak terganggu bisa menyebabkan ledakan emosi yang lebih buruk di kemudian hari. Oleh karena itu, menjadi istri yang baik saja tidak cukup untuk menjaga pernikahan tetap harmonis.
Banyak pasangan suami dan istri yang terlihat baik-baik saja di mata publik, tetapi di balik pintu terjadi kekacauan yang tidak terlihat. Keretakan pernikahan itu sering menyebabkan kejutan bagi orang-orang di sekitarnya. Jadi, menjadi baik saja tidak akan menjamin keharmonisan pernikahan.
Dalam mengupayakan pernikahan yang harmonis, kesadaran tentang konsep menjadi seorang pasangan yang baik adalah modal dasar yang sangat penting. Namun, kesadaran itu sendiri tidak akan cukup. Keahlian dan pengetahuan tentang bagaimana mengelola emosi, mengkomunikasikan nasihat, mengajarkan akhlak kepada anak-anak, dan menjadi bentuk ekspresi cinta yang tepat juga sangat dibutuhkan.
Dalam perjalanan hidup pernikahan yang panjang, ilmu dan keterampilan pernikahan yang memadai sangat penting. Pernikahan tidak hanya tentang menjadi baik, tetapi juga tentang memahami bagaimana menjaga keharmonisan dan kedamaian dalam hubungan. Menyeimbangkan pernikahan dengan pengetahuan dan keterampilan yang tepat merupakan kunci utama untuk meraih pernikahan yang harmonis.
Artikel ini ditulis untuk membuka pemahaman kita tentang pentingnya memiliki perbekalan pengetahuan dan keterampilan dalam membina pernikahan yang harmonis. Sering kali kita sepenuhnya mengandalkan kebaikan diri kita tanpa menyadari bahwa itu saja tidak cukup. Oleh karena itu, mari kita lengkapi diri kita dengan ilmu dan keterampilan yang sesuai agar pernikahan kita dapat berkembang dengan baik. (*)
kangentraveling.com
banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *