Sejarah Upacara Adat Ngasa Gandoang dan Beragam Keunikannya

banner 468x60

KANGENTRAVELING.COM – Upacara
Ngasa merupakan salah satu ritual adat bagi para masyarakat Gandoang, Salem,
Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Upacara adat ini sangat sarat akan sejarah.
Selain itu, dalam pelaksanaan upacara adat Ngasa banyak menggunakan simbol yang
mengkomunikasikan beragam makna. Upacara ini digelar setiap setahun sekali dan
telah dilaksanakan oleh masyarakat setempat sejak ratusan tahun silam. Semakin
penasaran mengenai sejarah upacara adat Ngasa, kabupaten Brebes ini, mari kita
simak ulasannya
.

Mengetahui Sejarah Upacara Adat Ngasa

Pelestarian
sebuah budaya tentu akan mewarnai keteguhan nilai-nilai dari suatu wilayah atau
daerah tertentu. Hal ini tentu akan bermuara pada kekayaaan nasional yang cukup
adi luhung. Dalam masyarakat Gandoang terbukti memiliki semangat konservasi
lingkungan sebagai salah satu usaha yang sangat bagus dalam penyelamatan
lingkungan.

Dalam
hal ini lingkungan mempunyai hubungan yang cukup erat dengan masyarakat adat
yang terdapat di dalamnya. Masyarakat tidak hanya memanfaatkan lingkungan hutan,
akan tetapi juga memperlakukan hutan seperti halnya dengan manusia. Sama-sama
makhluk hidup yang perlu dikasihi serta dipelihara, dihargai serta
dilestarikan.

Bahkan
mencabut rumput saja, bagi masyarakat Gandoang dianggap sangat tabu. Masyarakat
Gandoang adalah bentuk komunitas lereng Gunung Sagara yang melestarikan tradisi
Sunda Jawa. Kawasan ini sudah terpelihara ratusan tahun lamanya dengan memegang
teguh upacara adat budaya Ngasa.

Latar Belakang Sejarah Upacara Adat Ngasa

Upacara
Ngasa merupakan simbol tanda terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, atas
semua nikmat yang telah dikaruniakan. Layaknya pada daerah pantai terdapat
sedekah laut, untuk tengah-tengah terdapat sedekah bumi. Sedangkan khusus
masyarakat Gandoang, Salem, kabupaten Brebes dan sekitarnya menyelenggarakan
sedekah gunung.

Upacara
Adat Ngasa pertama kali digelar pada masa pemerintahan Bupati Brebes ke-9 yakni
Raden Arya Candranegara pada tahun 1880-1885. Semenjak itu, upacara adat ini
digelar secara turun temurun hingga saat ini. Upacara adat Ngasa ini pada
umumnya digelar setiap mangsa kasanga.

Mangsa
kasanga adalah bulan kesembilan dalam kalender Jawa dalam setiap tahunnya.
Mengenai hari pelaksanaan upacara adat ini, dilaksanakan pada Selasa Kliwon
atau Jumat Kliwon. Mengenai lokasi pelaksanaan upacara Ngasa digelar di lereng
Gunung Sagara. Selanjutnya, setelah dilakukan prosesi ritual, upacara adat ini
pun ditutup dengan acara makan-makan bersama seluruh masyarakat sekitar.

Prosesi dan Keunikan Upacara Adat Ngasa

Sejak
subuh dini hari, ibu-ibu warga Gandoang menggendong cepon pada tangan kanannya
menjinjing rantang seng. Mereka berjalan menyusuri perbukitan Gunung Sagara dan
sampai pada suatu wilayah yang bernama  Pagedongan. Pada kawasan inilah,
menjadi pusat terselenggaranya upacara Ngasa terselenggara.

Setelah
adanya berbagai sambutan, sampailah pada puncak acara. Puncak acara tersebut
adalah pembacaan doa yang dilanjutkan dengan makan bersama. Terdapat hal unik
dari perayaan ini, masyarakat pantang untuk makan nasi, daging serta ikan.

Pantangan
ini merupakan salah satu bentuk tradisi yang masih bertahan secara turun
temurun dari leluhur mereka. Kemudian, makanan pokok masyarakat wilayah ini
adalah nasi jagung dengan lalapan dedaunan, umbi-umbian, sambal, terong, pete
serta daun reundeu. Pada saat makan pun tidak diperbolehkan menggunakan piring
dan sendok yang terbuat dari kaca. Masyarakat menggunakan sendok piring, cepon
serta rantang yang terbuat dari seng dan dedaunan.

Sejarah
upacara adat Ngasa yang telah dilakukan secara turun temurun selama ratusan
tahun lalu. Ngasa juga merupakan wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha
Kuasa, atau sebagai ungkapan rasa syukur kepada Batara Windu Buana yang
dianggap sebagai pencipta alam.

 

 

kangentraveling.com
banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *