Merayakan Idul Adha di Masjid Al Aqsho

banner 468x60

KANGENTRAVELING.COM – Kota terdekat dari border adalah Jericho. Bus mampir sebentar di sebuah toko untuk memberi kesempatan kepada rombongan belanja oleh-oleh dan souvenir.

Begitu turun dari bus saya langsung merasakan panasnya Jericho di bawah sengatan terik matahari. Saya agak heran juga kenapa panasnya jauh melebihi panasnya Jordania. Padahal secara geografis lokasinya sangat berdekatan. 
Hari ini adalah hari Arofah. Sebagian rombongan ada yang berpuasa sehingga tour guide menargetkan sudah masuk hotel saat maghrib agar bisa buka puasa di hotel. Ternyata bus sudah bisa mencapai hotel sekitar jam 18.30 sementara maghrib sebagai tanda waktu untuk berbuka adalah sekitar jam 20. Jadi masih ada waktu 1 jam lebih untuk istirahat sebelum berbuka puasa. 
Saya dan istri sangat kelelahan sehingga langsung tertidur. Bangun-bangun waktu sudah menunjukkan hampir jam 20.30. Saat kami turun untuk makan ternyata rombongan sudah berangkat sholat maghrib ke Al Aqsho. 
Selesai makan maka terpaksalah kami jalan sendiri. Kami sudah melewati jalan Salahuddin sekitar 500-600m saat kami melihat tembok benteng di hadapan kami. Sesaat saya merasa sedang di Istanbul karena temboknya mirip dengan tembok benteng Konstantinopel. 
Sebuah gate tepat di hadapan kami tegak lurus dengan jalan Salahuddin adalah salah satu pintu masuk ke Al Aqsho. Adapun tembok itu sendiri mengelilingi area yang disebut sebagai kota tua Jerusalem. Di dalam kota tua itulah komplek masjid Al Aqsho seluas sekitar 14 ha berada. 
Begitu masuk gate maka kami bertemu lorong-lorong. Ternyata untuk sampai ke lokasi masjid maka orang harus menyusuri lorong demi lorong. 
Jalan di lorong-lorong ini terbuat dari susunan batu alam berwarna putih. Semua batu tersebut licin dan halus karena mungkin selama ratusan tahun dilewati orang yang lalu lalang sehingga lama kelamaan jadi aus karena gesekan sepatu dan sendal. 
Kiri dan kanan lorong adalah rumah penduduk yang sebagian sudah berubah fungsi menjadi toko. Ada juga pertigaan dan perempatan lorong yang menuju ke lorong-lorong lain. 
Perlu diceritakan bahwa ada dua pos penjagaan Israel di sepanjang jalur lorong tersebut. Setiap pos dijaga oleh sekitar 4-5 orang penjaga. Awalnya saya mengira mereka adalah tentara Israel karena semuanya menyandang senapan serbu seperti AK 47 Kalashnikov. Tapi ternyata mereka bukan tentara melainkan polisi karena di badge mereka tertulis Police. 
Kami terus menyusuri lorong demi lorong sambil bertanya-tanya sepanjang jalan. Setelah berjalan sekian ratus meter maka barulah kami sampai di gerbang masuk komplek masjid Al Aqsho. 
Saya tahu bahwa ada beberapa masjid di dalam kompleks Al Aqsho. Yang paling menyolok adalah Dome of the Rock yang oleh orang Indonesia sering disebut kubah emas karena warna kubahnya yang kuning keemasan. Lalu ada masjid Aqsho itu sendiri yang kubahnya berwarna hitam. 
Masjid dengan kubah hitam tersebut  di google map ditulis dengan nama Al Aqsa Mosque. Kemudian saya dapat info bahwa nama sebenarnya adalah masjid Al Qibli. Jadi itulah pemahaman saya tentang masjid Al Aqsho selama ini. 
Dengan pemahaman demikian maka saya berkali-kali bertanya pada orang di mana masjid Al Aqsho walau saya sudah berada di dalam komplek masjid. Setelah dua tiga kali bertanya maka orang keempat menjawab berbeda. Saat saya bertanya di mana masjid Al Aqsho dia mengatakan ini semua Al Aqsho. Tempat yg kita pijak sekarang ini adalah Al Aqsho katanya. 
Jawaban dia merujuk pada komplek masjid Al Aqsho sedangkan pertanyaan saya adalah masjid Al Aqsho itu sendiri. Baru kemudian saya mengerti bahwa komplek masjid Al Aqsho adalah masjid Al Aqsho itu sendiri. Jadi masjid Al Aqsho mencakup bangunan, lapangan terbuka dan taman yang ada di dalam komplek. 
Bulan Juni adalah musim panas bagi negara-negara sub tropis lintang utara. Panasnya sudah saya rasakan di Jericho, kota terdekat dari border seperti yang saya tulis di awal tulisan ini. Tapi aneh sekali bahwa di Jerusalem atau tepatnya di lingkungan masjid Al Aqsho justru sejuk. Meskipun di bawah terik matahari namun tidak panas seperti di Jericho atau Makkah. Di malam hari terasa dingin seperti bukan di musim panas saja. Bahkan di pagi hari malah dingin sekali seperti di Puncak. 
Kami melakukan semua sholat wajib rowatib di masjid. Selain itu yang membuat perjalanan kali ini luar biasa adalah karena kami bisa mengikuti malam takbiran di sini dan sekaligus sholat Iedul Adha pada keesokan harinya. 
Mengikuti malam takbiran dan sholat Iedul Adha di Al Aqsho membuat saya mau tidak mau jadi membandingkan dengan suasana di Indonesia. Di sini takbiran hanya sekedarnya saja. Beda dengan di Indonesia yang malam takbirannya berlangsung sampai pagi. 
Kemudian irama takbirannya juga berbeda. Entah kenapa saya merasa irama takbiran di Indonesia jauh lebih merdu dibanding di sini. 
Adapun sholat Ied berlangsung biasa. Selesai sholat Ied masih banyak jamaah yang tidak langsung bubar namun ada yang berkelompok, ada yang ngobrol-ngobrol, ada yang duduk-duduk, ada yang berfoto-foto dan macam-macam lagi. 
Saya sendiri menikmati dulu suasana Iedul Adha di masjid Al Aqsho ini. Setelah puas melihat dan mengamati maka barulah kami balik ke hotel. 
Sumber: Emir Sadikin
kangentraveling.com
banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *