Meluruskan Mitos Candi Plaosan: Sebuah Toleransi dan Cinta yang Tak Lekang oleh Waktu

banner 468x60

KANGENTRAVELING.COM – Candi Plaosan merupakan salah satu situs bersejarah yang terletak di Desa Bugisan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Berjarak sekitar 2,6 kilometer dari Komplek Candi Prambanan, candi ini menawarkan pemandangan yang menakjubkan dengan deretan candi-candi yang masih berdiri kokoh maupun reruntuhan.

Candi kembar di komplek Candi Plaosan Lor begitu indah, seringkali menjadi background apik untuk bersesi foto pra-nikah.
Salah satu keunikan Candi Plaosan adalah adanya 174 candi perwara yang mengelilingi kedua candi induk atau candi kembar. Sebagian kecil dari candi-candi tersebut telah berhasil dipugar kembali. Berbagai ukiran dan arca di dalam candi ini menunjukkan keterampilan para pembuatnya pada zaman dahulu.
Seiring berjalannya waktu, terdapat beberapa mitos seputar Candi Plaosan. Salah satu mitos yang populer adalah bahwa candi ini merupakan simbol cinta beda agama antara Raja Rakai Pikatan dengan Pramodhawardhani yang berasal dari Wangsa Syailendra.
Konon, candi ini dijadikan mas kawin dalam pernikahan mereka dan menjadi bukti toleransi antara Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu dan Dinasti Syailendra yang beragama Buddha.
Namun, mitos ini ternyata tidak sepenuhnya benar. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi telah meneliti lebih lanjut mengenai asal-usul Candi Plaosan, dan hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa candi ini sejatinya merupakan sebuah kompleks candi Buddha yang dibangun oleh Dinasti Syailendra pada awal abad ke-8. Bangunan ini sezaman dengan pembangunan Candi Borobudur dan Candi Ratu Boko.
Meskipun mitos mengenai cinta beda agama ini populer di kalangan masyarakat, nyatanya candi ini memiliki fungsi yang lebih penting, yaitu sebagai tempat ibadah dan pengajaran bagi para biksu dan biksuni, khususnya yang datang dari luar Nusantara. Di sini, mereka dapat menghayati dan mendalami ajaran-ajaran Buddha.
Terdapat berbagai sumber lain yang menyatakan bahwa Candi Plaosan telah dibangun pada masa pemerintahan Raja Medang kedua, Rakai Panangkaran (746-784 M).
Sementara candi yang dibangun oleh Rakai Pikatan, yang merupakan raja Medang ketujuh, adalah Candi Loro Jonggrang.
Meski demikian, Rakai Pikatan tetap menambahkan beberapa bangunan dan tulisan prasasti di Candi Plaosan Lor untuk menunjukkan rasa hormat dan tidak mengabaikan candi yang dibangun oleh Rakai Panangkaran.
Dari sini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa Candi Plaosan merupakan warisan budaya yang sangat penting bagi sejarah dan peradaban di Nusantara, terlepas dari benar-tidaknya mitos yang menyertai candi ini. Candi ini menjadi saksi bisu perjalanan sejarah dan perubahan zaman yang telah melalui berbagai generasi.
Selain itu, candi ini juga menjadi simbol toleransi antara berbagai keyakinan dan agama yang hidup berdampingan di masa lampau.
Sebagai bangsa yang memiliki kekayaan budaya yang berlimpah, mari kita jaga dan lestarikan warisan sejarah ini agar dapat dinikmati dan dipelajari oleh generasi penerus kita. (/Diambil dari beberapa sumber)
kangentraveling.com
banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *