Makanan dari Jagung, Suguhan Unik Dalam Upacara Ngasa di Gandoang

banner 468x60

KANGENTRAVELING.COM – Upacara Ngasa menjadi salah satu ritual adat bagi masyarakat yang ada di Gandoang, Salem, Kabupaten Brebes. Upacara ini memiliki makna semangat konservasi lingkungan dalam rangka menyelamatkan lingkungan. Ada salah satu hal unik dalam upacara ini. Salah satunya adalah makanan dari jagung yang menjadi hidangan khas dalam upacara adat tersebut.

Mengapa harus nasi jagung? Mengapa tidak menggunakan nasi dari beras saja? Saat upacara adat Ngasa di Gandoang, semua warga membuat makanan yang berasal dari bahan baku jagung atau ketan.
Selain hidangan dari jagung dan ketan, ada pula hidangan dari umbi-umbian hasil panen warga setempat.
Alasan Menggunakan Makanan dari Jagung Dalam Upacara Ngasa
Desa Gandoang sudah rutin menggelar upacara adat Ngasa sebagai salah satu upaya pelestarian budaya dan adat di wilayah tersebut. Upacara ini digelar setahun sekali pada hari Selasa Kliwon di Mangsa Kasanga.
Upacara ini merupakan adat yang sudah diwarisi turun temurun sejak ratusan tahun yang lalu. Sampai kini adat tersebut tetap lestari dan dijalankan oleh masyarakat dan tokoh adat setempat.
Salah satu hal unik dalam upacara adat ini adalah makanan yang disajikan. Semua sesaji serta hidangan tidak diperbolehkan menggunakan bahan baku dari beras juga daging. Akan tetapi, seluruh sajian terbuat dari jagung. Sebut saja nasi jagung yang dilengkapi dengan lauk dari umbi-umbian.
Saat upacara berlangsung, maka semua warga masyarakat tidak boleh makan nasi dan daging. Warga hanya diperbolehkan makan makanan dari jagung dan umbi-umbian lainnya.
Salah satu aturan lain adalah penyajian makan tersebut tidak diperbolehkan menggunakan bahan yang terbuat dari kaca. Seperti menggunakan piring atau gelas. Alat makan yang bisa dipakai adalah piring yang terbuat dari bahan daun, seng serta alat makan yang bahannya terbuat dari plastik.
Memaknai Upacara Adat Ngasa
Sebenarnya apa makna dari upacara adat Ngasa yang sudah berjalan ratusan tahun ini? Sebutan Ngasa itu memiliki arti Mangsa Kasanga atau kesembilan. Ini adalah sebutan dalam hitungan kalender Jawa.
Pelaksanaan upacara ini merupakan salah satu bentuk sedekah gunung pada Tuhan yang Maha Kuasa. Selain itu, bisa juga menjadi bentuk permohonan doa keselamatan untuk warga masyarakat Gandoang dan seluruh umat manusia.
Ngasa juga memiliki makna wujud syukur paa Barata Windu Buana yang menjadi Pencipta Alam. Batara memiliki utusan yang dinamakan Burian Panutus.
Selama masa hidupnya, Burian tidak pernah menanak nasi. Burian hanya makan makanan dari jagung dan berbagai umbi-umbian. Bahkan Burian juga tidak memakan yang bernyawa. Ini menjadi bentuk penghambaan kepada Batara. Sekarang Ngasa menjadi bentuk rasa syukur kepada Allah Maha Pencipta.

Upacara Ngasa Akan Dilestarikan
Sebagai salah satu peninggalan leluhur, maka Ngasa akan tetap dilestarikan hingga tahun-tahun berikutnya. Apalagi saat ini wisata budaya menjadi salah satu destinasi yang cukup dilirik oleh wisatawan.
Upacara adat Ngasa bisa menjadi salah satu pilihan wisata yang menampilkan keunikan adat desa Gandoang yang akan bisa menarik wisatawan dan membuat desa Gandoang dikenal oleh khalayak luas.
Anda juga bisa menelusuri berbagai destinasi wisata menarik yang ada di Desa Gandoang yang masih perlu dieksplor dan dikembangkan. Seperti lereng Gunung Kumbang dan Gunung Sagara.
Bukan hanya menjadi bentuk pelestarian budaya daerah, tetapi Ngasa juga menjadi momen dimana warga bisa berkumpul dan bersilaturahmi. Memperkenalkan makanan dari jagung dan berbagai kuliner khas lain yang ada di desa Gandoang, Salem, Brebes ini.

kangentraveling.com
banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *