Keunikan Petani Garam di Desa Jono Kabupaten Grobogan

banner 468x60

KANGENTRAVELING.COM – Berbeda dengan tambak garam yang umumnya berada di tepi pantai, di Desa Jono, Tawangharjo, Kabupaten Grobogan, terdapat tambak garam seluas 120 hektare yang jauh dari pantai.

Tambak ini mengandalkan air sumur asin dari perut bumi yang berada di tengah daratan tandus dan gersang. Keunikan ini menjadikan garam Desa Jono sangat langka, mungkin satu-satunya di Indonesia atau bahkan dunia.
Desa Jono dan kawasan Bledug Kuwu memiliki sumber air yang asin mirip air laut, dengan kualitas garam yang lebih baik dibandingkan garam air laut.
Walaupun warnanya kecokelatan, garam Desa Jono lebih mahal karena mengandung iodium hingga 8 persen tanpa penambahan zat yodium. Hanya terdapat 7 sumur di desa ini, yang konon merupakan peninggalan Joko Linglung, putra Ajisaka, tokoh legenda Jawa.
Dibandingkan garam laut, garam lembah Jono memiliki kadar iodium yang lebih tinggi. Dahulu, Desa Jono menjadi satu-satunya produsen garam di Indonesia, dengan petani garam yang kaya sebagai saudagar.
Namun, sejak 1970-an, garam laut mulai diproduksi dan mengurangi ketergantungan pada garam dari Jono.
Pada tahun 1950, terdapat ratusan pengusaha garam di Desa Jono dengan produksi hampir 5.000 ton per tahun. Namun, kini hanya tersisa 50 pengusaha dengan produksi sekitar 100 ton per tahun, karena terbatasnya hasil produksi dan masalah pemasaran.
Asal mula garam di lembah Jono berasal dari perairan laut yang terletak di antara pegunungan Kendeng dan Rembang. Proses sedimentasi yang terjadi membuat daerah ini kering dan menjadi rawa.
Sisa-sisa tumbuhan rawa mati terendapkan dan membentuk gas metana, lumpur, serta air payau. Gas metana ini sangat berbahaya dan biasanya dibakar untuk mengurangi risiko kebakaran pada warga setempat. (*)
kangentraveling.com
banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *