Adat Palang Pintu: Metode Komunitas Betawi Menilai Calon Suami

banner 468x60
Foto: Kominfotik Jakpus

KANGENTRAVELING.COM – Adat Palang Pintu menjadi kegiatan penting dalam upacara pernikahan masyarakat Betawi.

Palang Pintu, sebuah praktik khas Betawi, menggabungkan perkelahian pencak silat, sajak-sajak pantun, hingga melantunkan hafalan Al Quran dan salawat. Ini melukiskan serangkaian tantangan yang harus ditembus oleh calon suami untuk mendapatkan restu dari keluarga calon istri. Dalam proses ini, sang pria diharuskan dapat mengalahkan si jawara dari calon istri.
Adat ini dianggap sebagai lambang perlindungan absolut orangtua terhadap putri mereka sebelum berangkat membangun rumah tangga.
Untuk mempelai pria, Palang Pintu adalah pengesahan keseriusannya dalam berikhtiar membangun kehidupan bersama dengan calon istri.
Makna dan Tujuan Adat Palang Pintu
Adat Palang Pintu di lingkungan masyarakat Betawi berasal dari norma setempat, yaitu seorang pria yang berkeinginan melamar seorang wanita wajib membuktikan diri dengan melawan para pejuang di desa calon istrinya atau saudara-saudaranya.
Adat Palang Pintu berarti simbol dari serangkaian uji coba yang harus dilewati oleh calon suami untuk memperoleh persetujuan dari keluarga calon istri.
Pintu persetujuan ini dapat dibuka dengan menunjukkan keahlian beladiri hingga kemampuan membaca Al Quran.
Dalam dialek Betawi, kata ‘palang’ akan berarti penghalang yang menghindari seseorang lewat. Jadi, ‘Palang Pintu’ dapat diartikan sebagai praktik membuka penghalang saat mengunjungi suatu wilayah yang dikuasai seorang jawara.
Tujuan dari Palang Pintu adalah untuk memastikan keseriusan calon suami yang bersiap untuk hidup bersama dengan calon istrinya.
Selain membuka gerbang pernikahan, tujuan lainnya dari Palang Pintu adalah untuk menunjukkan ketaatan terhadap norma adat yang dijalankan di masyarakat Betawi.
Rangkaian Adat Palang Pintu Adat Palang Pintu dilaksanakan ketika rombongan pengantin pria hendak memasuki rumah pengantin perempuan. Sesaat sebelum rombongan pria masuk, mereka akan disambut oleh perwakilan dari pihak perempuan. Masing-masing pihak akan mengirim seorang penulis pantun dan seorang jawara silat untuk berhadapan dengan calon pengantin.
Dalam dialog pembukaan, akan ada pertukaran pantun. Lama-kelamaan, ton pelempar pantun akan meningkat dan suasana tampak seperti memanas.
Meskipun tampaknya seperti ingin berkelahi, pantun yang dilontarkan banyak yang penuh lelucon dan membuat orang tertawa. Setelah itu, jawara silat dari pihak perempuan akan mengevaluasi kekuatan dan kemampuan dari pihak pria.
Pertarungan ilmu silat akan berlangsung dan akhirnya akan dimenangkan oleh pihak pengantin pria. Mengalahkan lawan dari pihak perempuan inilah yang dianggap sebagai menghancurkan penghalang, yang menjadikan tradisi ini diberi nama Palang Pintu.
Setelah itu, pihak pengantin wanita biasanya meminta pihak pria untuk menunjukkan keahliannya dalam membaca Al Quran. Ketika semua tantangan telah dilewati, pihak pengantin wanita akan mengizinkan rombongan pengantin laki-laki untuk masuk. (/kt)
kangentraveling.com
banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *